Beli Properti, Jangan Sesuai Kemampuan

Beli Properti, Jangan Sesuai Kemampuan

Begitu kata salah satu Mentor saya… kenapa? Karena properti harganya naik terus dan beli properti ada pihak ke-tiga yang dengan rela mau bantu kita membiayai pembelian properti.

Jika Anda memiliki uang 100jt jangan membeli properti yang harganya 100jt. Jadikan saja 100jt itu uang muka, belilah properti yang harganya 300 atau bahkan 1 milyar. Dari mana sisanya, ya dari temen Anda yang banyak uangnya yakni Bank. Coba bayangkan, lima tahun yang akan datang, properti yang Anda beli 100jt nilainya akan menjadi 200 bahkan 300 juta. Sedangkan kalau kita belinya properti seharga 500jt (400jt sisnya uang bank), maka nilai properti tersebut sangat mungkin menjadi 1 Milyar atau bahkan lebih! Memang Anda harus mencicil dan membayar bunga bank…. tapi bunga bank akan kalah oleh pertumbuhan properti itu sendiri. Tidak percaya…??? coba lihat pengalaman saya…

Tahun 1998, saya membeli rumah seharga 95jt. Rumah tersebut saya cicil selama 10 tahun. Total cicilan + bunga selama 10 tahun adalah sekitar 180jt. Tahun 2008 yang lalu, nilai rumah saya sudah mencapai 550jt (hasil apraisal dari Bank). Bisa Anda lihat, kenaikan harga rumah jauh melampaui bunga bank yang saya bayarkan. Jadi, saya sering menyarankan pada teman-teman di Entrepreneur University untuk membeli properti tidak sesuai dengan kemampuan. Artinya, gunakan pihak ke-tiga untuk me-leverage kemampuan kita dalam membeli properti.

Saran lain, seandainya Anda sanggup mencicil rumah 1jt/bln… coba ambil rumah yang lebih mahal atau ambil kelebihan tanah sehingga cicilannya jatuh di angka 1.2 – 1.4jt/bln. Dari mana sisanya yang 200-400rb, cobalah untuk berjuang mencari sisanya dari penghasilan yang lain. Saya yakin bisa asal ada kemauan, dengan cara menekan pengeluaran dan menambah penghasilan. Mungkin di tahun-tahun awal memang akan terasa berat, tapi 2-3 tahun berikutnya beban tersebut tidak akan terasa lagi oleh Anda. Kalau kata temen saya Jaya Setiabudi, The Power of Kepepet…

Berani nggak?



16 Responses to “Beli Properti, Jangan Sesuai Kemampuan”

  1. agus muslih says:

    pak Rully…klo beli proferti apakah harus menunggu saat yang tepat…seperti halnya beli emas?

    [Reply]

    Broer Reply:

    kalau property menurut saya bisa beli kapan aja, kecuali kalau mau ambil pake kredit. Kita harus liat trend perkembangan suku bunga bank. Kalau belinya sih…semua waktu bisa tepat. Yang penting TRANSAKSINYA BAGUS….

    [Reply]

  2. adhi nugraha says:

    Ass..
    Setelah mengikuti workshop EU di Bogor, kebetulan pembicaranya kang Rully, dan membahas masalah properti, virusnya menular ke saya. alhamd saya berani mencobanya dengan membeli property di atas kemampuan saya. Awalnya saya ragu, seiring berjalannya waktu, saya merasakan akan ada nilai manfaat di masa depan…
    Mudah2an tulisan kang Rully menjadi inspirasi bagi yg lain.

    [Reply]

    Broer Reply:

    Terima kasih… Mudah-mudahan bermanfaat untuk kita semua…

    [Reply]

  3. aldy says:

    Kang ruli saya ingin tanya….kok pendapat kang rully berbeda dengan apa yang saya tanyakan saat di kelas. saya pernah bertanya apakah untuk membeli properti kita harus sudah mempunyai usaha terlebih dahulu agar bank dapat menilai kita sebagai seorang yang kreadible atau tidak dalam membeli pinjaman… tapi pada saat itu kalau gak salah kang ruli mengatakan bahwa untuk membeli properti harus disesuaikan dengan kemampuan kita….nah sekarang kang ruli mengatakan membeli properti harus nilainya harus di atas kemampuan kita….jadi baik nya gimana ya kang???aldy (EU Pangkalpinang)

    [Reply]

    kevin.YD Reply:

    Kang Ruli terkadang memang kita harus nekat, tetapi harus dipertimbangkan juga prospek propertinya, lokasi dll kira2 oke nggak…

    [Reply]

    Broer Reply:

    yup…dihitung pertumbuhannya…cari yang pertumbuhannya di atas 15%/thn

    [Reply]

  4. KAdio says:

    Kalau Krisis-nya Sampai Di Indonesia Bagaimana ya.. ?
    Tahun 1998 Bank2 saja pada ditutup. Bunga Kredit samapi 40%
    Bagaimana itu.. ?

    [Reply]

    Broer Reply:

    Bertahan…krisis ternyata cuma 1 tahun…ribuan bahkan juataan orang mampu bertahan…pasti ada jalan keuar…saya saat itupun mengalami/terkena imbas…tapi yg ngalamin kan nggak cuma saya…ada ribuan orang…

    [Reply]

  5. KAdio says:

    Ada Tips-nya pa, untuk menghadapi krisis.. ?
    Setahu saya Banyak Sekali pengusaha yang hilang setelah tahun 1998.
    Bank Juga Begitu, ada Bank Nusuma, Bank Haga..dll Ada Juga Bank yang Uang-nya dibawa kabur semua keluar negeri sama pemiliknya.

    [Reply]

  6. tinem says:

    saya mau beli tanah plus rumah usang,letaknya dilorong kampung harganya 40jt,sy cm py 15jt,gmn caranya sy dpt uang sisanya?

    [Reply]

  7. Kang Rachmat says:

    Saya sempet nanya sama temen saya yg kerja di bank.

    Katanya kalo kita pinjam ke bank, kita harus memiliki usaha yg akan dibiaya oleh kredit tersebut, jadi bank tersebut tidak hanya mengandalkan jaminan berupa tanah atau bangunan.

    Mohon pencerahannya ya mas!

    Rachmat

    [Reply]

  8. andriansah says:

    hmmm, jadi kepikiran untuk beli tanah. Apa pake cara ini yah?

    [Reply]

  9. pengusaha mlati kidul says:

    betul..setuju…klo bisa tanpa modal sekalian

    [Reply]

  10. Uzah says:

    Kang, kami pernah mau ngajuin beli rumah secara KPR. Bukannya kemudahan yang kami dapatkan tapi malah keruwetan. akhirnya, kami putuskan untuk membatalkannya. Jujur kami amat sangat ingin punya rumah sendiri yang nyaman, prospeknya bagus dan aman dan yang paling utama bisa segera ngumpul (kebetulan saya dan suami tinggal di Kota berbeda karena alasan pekerjaan). Tolong tips/infonya dong Kang! Sampe kebawa mimpi punya rumah. Terima kasih ya Kang Rully

    [Reply]

  11. myamin says:

    ok mas, segera di realisasikan

    [Reply]

Leave a Reply

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.