Malam ini saya buka-buka situs favorite saya dan saya menemukan tulisan yang menurut saya sangat layak untuk diketahui banyak orang, oleh karena dengan se izin penulis, tulisan ini kami copas (Copy & Paste) lengkap….
Pagi ini saya trenyuh dengan tulisan surat pembaca di harian Kompas (04/06/09) dengan judul “Menyedihkan, Pensiunan Professor Tidak Dihargai”. Nampaknya tulisan tersebut dibuat oleh seorang dosen yang memprihatinkan sejawatnya yang telah pensiun. Sejawat yang sudah professor tersebut ketika pensiun hanya menerima gaji bulanan kurang dari Rp 3 juta per bulan.
Saya tidak tahu bagaimana dana pensiun pak Professor dikelola sehingga saya tidak mengomentari apa yang terjadi dengan dana pensiun beliau. Tetapi saya akan utarakan cerita sejenis yang dihadapi oleh tokoh imaginer Pak Abdullah yang bekerja di sektor swasta.
Mungkin mirip dengan Pak Professor, Pak Abdullah ini adalah tokoh yang cemerlang ketika lulus perguruan tinggi pada usia 25 tahun pada tahun 1970. Saat itu beliau langsung diterima di perusahaan besar dengan gaji pertama Rp 3,600. Setelah bekerja selama 30 tahun, beliau pensiun tahun 2000 dengan rata-rata pendapatan bulanan (termasuk bonus) Rp 100,000,000,- fantastis bukan ?.
Setiap bulan pak Abdullah menyisihkan 10 % dari gajinya untuk di tabung sebagai dana pensiun, hasil rata-rata tahunan dari dana pensiun Pak Abdullah adalah juga 10%. Maka ketika pak Abdullah pensiun tahun 2000 , akumulasi dana pensiun yang dimilikinya telah mencapai Rp 687,000,000,-.
Karena Pak Abdullah, sangat ingin hidup mandiri sampai akhir hayatnya – maka dana pensiun ini tidak diambil sekaligus melainkan diambil bulanan. Karena rata-rata hasil investasi dana pensiun bersih pak Abdullah tetap 10 % per tahun, maka setiap bulan Pak Abdullah menerima pembayaran rutin dari dana pensiunnya sebesar Rp 6.5 juta per bulan sampai usia beliau 75 tahun.
Cukupkah angka Rp 6.5 juta perbulan ini ?, tergantung pola hidup pak Abdullah setelah pensiun; yang jelas ini hanya sekitar 6.5% dari gaji terakhir beliau ketika masih bekerja – otomatis Pak Abdullah mengalami penurunan kemampuan finansial yang significant setelah beliau pensiun.
Nah bagaimana solusinya agar dana pensiun Anda tidak tergerus daya belinya ketika Anda pensiun…?, menabunglah dengan Dinar emas, mata uang Islam yang terbukti lebih dari 1400 tahun bebas inflasi.
Begini simulasinya untuk pak Abdullah seandainya beliau mengenal Dinar emas sejak awal karirnya tahun 1970.
Gaji beliau yang Rp 3,600 tahun 1970 adalah kurang lebih setara dengan 2 Dinar. Setiap bulan sampai pensiun beliau menabung 10 persen dari gajinya dalam bentuk Dinar – Seandainya pula saat itu sudah ada Qirad dan Tabungan Dinar . Karena berupa Dinar, hasil investasi dalam Dinar hanya sekitar 3 %, jadi Pak Abdullah ‘hanya’ memiliki akumulasi dana pensiun 4,350 Dinar ketika pensiun pada tahun 2000.
Karena dana pensiun dalam Dinar ini juga digunakan untuk menopang kehidupan beliau sampai akhir hayat, maka beliau bisa menerima 24 Dinar setiap bulan sampai usia 75 tahun. 24 Dinar saat ini setara dengan kurang lebih Rp 33 juta Rupiah.
Dengan uang pensiun yang tahun ini setara dengan Rp 33 juta Rupiah, Pak Abdullah dapat menikmati hari tuanya dengan lebih leluasa.
Jadi bagi Anda yang masih muda-muda kini punya dua pilihan; membangun dana pensiun secara konvensional dalam mata uang kertas dengan risiko dana pensiun Anda tergerus daya belinya oleh inflasi, atau membangun dana pensiun dengan kekuatan mata uang Islam Dinar yang bebas inflasi selama lebih dari 1400 tahun. Wallahu A’lam
Sumber: www.GeraiDinar.com – Muhaimin Iqbal
sedikit comment…saya sangat setuju dg tulisan tsb,namun untuk itu dibutuhkan kesadaran diri dari muda ,dan itu memang sangat penting dengan catatan ada yang disisihkan/ditabung, karenanya untuk mengaplikasikan butuh management diri yang konsisten,fokus dan berimbang…trims
[Reply]
Bener juga kang, lebih baik menabung pake dinar atau emas ya. Tapi sy sudah hampir setahun ikut dana pensiun di suatu bank. Jadi baiknya gimana kang? apa sy harus berhenti atau bagaimana bainya?
Thx
[Reply]
lebih baik mana pak rully, investasi emas batangan PT. Antam atau dinar ?
[Reply]
masalahnya,kedisiplina kita dalam menabung masih rendah.sehingga sangat sulit untukmenabung emas.
jalan keluarnya mungkin bisa memakai produk MULIA di Pegadaian.
mulia adalah nabung emas secara cicil bulanan.
tq
mohon maaf sebelumnya.
[Reply]
kalo dana pensiunnya diganti pake asuransi hari tua gimana Pak? soalnya bagaimanapun juga tetap butuh proteksi, kl ada apa2 ditengah usia, misal meninggal. Jadi keluarga msh bisa dapet Uang pertanggungan. Kl pake dinar ada proteksinya juga gak?
[Reply]
dari tulisan diatas kata emas dana pensiuan lebh baik d tabung emas atau dinar,
yang ingin saya tanyakan adakah bank yang menyediakan fasilitas tabungan emas or dinar?
kalo ada bank ap?
tlg infonya mas,
thk
[Reply]
Ada sih,di SDB (safe deposit box) tapi nggak ada bunga yang ada malah biaya tahunan. Nabung di SDB biayanya sama 1 gram atau 10 kilogram, menarik bukan.
[Reply]